Senin, 14 Januari 2013
Madito M.
Edwina Y.
Tiara O.
Desviana I.
MUSIK
Musik adalah bagian dari seni yang menggunakan bunyi-bunyian untuk medianya. Musik ini di pengaruhi oleh unsur-unsur pendukungya
seperti lokasi,budaya dan juga masyarakat pendukung. Kosasih (1982:1)
berpendapat bahwa: Musik merupakan tempat dimana manusia dapat
mencurahkan perasaan hati, tempat melukiskan getaran jiwa khayal yang
timbul dalam pikiran yang mana tak dapat di cetuskan dengan perantaraan
kata-kata, perbuatan atau dengan perantaraaan salah satu bidang seni
lain. Selain itu musik menurut Aristoteles mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah, mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme.
SEJARAH PERKEMBANGAN MUSIK INDONESIA
Prasejarah
Musik Indonesia sejak ribuan tahun yang lalu ternyata perkembangan
musik Indonesia sudah ada, sehingga musik itu dikatakan telah melampaui
batas bahasa, kebudayaan bahkan agama. Bagi orang barat, India sering
disamakan dengan Indonesia. Mereka menyebut India dengan Indie
(Nedherland-Oost) yang maksudnya Indonesia. Anggapan semacam itu
mengakibatkan kekayaan alat seni maupun kesenian di Indonesia tidak
diperhitungkan oleh bangsa lain, terutama waktu penjajahan Belanda masih
bercokol di bumi Indonesia. Khasanah seni di Indonesia adalah sangat
kaya dan bermutu tinggi dan dapat disejajarkan dengan seni klasik di
negeri yang berkembang.
A. Jaman Prasejarah (sebelum abad 1 Masehi)
Ternyata prasejarah Indonesia belum banyak diteliti dengan kata lain diselidiki oleh para arkeolog , sejarawan atau yang lain. Padahal justru waktu antara tahun kira-kira 2500 Sebelum Masehi dan abad ke-1 Masehi menemukan perkembangan kebudayaan termasuk musik sampai saat ini. Menurut Alec Robertson dan Denis Stevens (penulis buku Geschichte der Musik 1 dari Munchen, Germany), pada jaman Mesolitikum kira-kira tahun 5000 Sebelum Masehi di Asia Tenggara terdapat 3 ras besar: orang Australide (penduduk asli), orang Melanesia (berasal dari Asia Tengah) dan orang Negrito (mungkin dari India). Lapisan bawah ini di tumpangi lapisan baru dengan dua arus imigrasi besar :
1. Imigrasi Pra-Melayu.
Antara tahun 2500 dan 1500 Sebelum Masehi kiranya terjadi suatu perpindahan bangsa dari Asia Tengah ke Asia Tenggara. Dalam perjalanannya mereka mengutip juga unsur dari Kaukasus dan Mongolia. Mereka membawa serta kebudayaan bambu serta teknik pengolahan lading. Terutama di Annam (Cina Selatan) mereka memperkenalkan semacam lagu pantun dimana putra dan putri bernyanyi dengan cara sahut menyahut.
Mereka memakai sebuah alat tiup bernama Khen terdiri dari 6 batang bambu yang ditiup bersama dalam kelompok d atau 3 nada. Alat ini dikenal pula di CinaSheng dan di Kalimantan dengan nama Kledi. nama Alat ini hanya merupakan salah satu alat dari sejumlah besar alat musik bambu yang sampai sekarang terdapat di Asia Tenggara. Sejumlah batang bambu dengan ukuran yang berbeda-beda di tanam di tanah. Tiupan angin menimbulkan bunyi bagaikan Kledi raksasa yang cukup indah (terdapat di Bali sampai sekarang). Alat musik bambu lain seperti suling, angklung dan lain sebagainya. Telah mengalami suatu proses perkembangan pada waktu kemudian. Seperti xylofonAsia Tenggara dalam bentuk berbeda-beda: sebagai’tatung’ di Annam, ‘rangnat’ di Kamboja, ‘ranat’ di Thailand, ‘pattalar’ di Birma, ‘gambang’ di Jawa, ‘kolintang’ di Sulawesi dan Kalimantan. Xylofon malah diekspor dari Asia Tenggara ke Afrika pada abad 5 Masehi. yang tersebar diseluruh
2. Imigrasi Proto-Melayu
Menurut para ahli sejarah pad jaman perunggu terjadi lagi suatu gelombang imigrasi ke Indonesia di sekitar abad 4 Sebelum Masehi berpangkal dari suatu daerah Cina Selatan Annam. Menurut R. von Heine-Geldern perpindahan suku-suku dari daerah tersebut lewat Kamboja, Laos, Thailand, Malaysia ke Indonesia dan berjalan terus ke Filipina, Melanesia dan Polynesia. Hal ini dibuktikan pula oleh P. Wilhelm Schmidt (1868-1954) yang menemukan bahwa para penduduk Indonesia, Melanesia dan Polynesia berdasarkan satu bahasa yang sama (yang memang kemudian berkembang sendiri-sendiri). Teori ini pada jaman sekarang didukung oleh hampir semua ahli sejarah. bernama
Karena ini terjadi pada zaman perunggu maka kedatangan mereka mempengaruhi juga kebudayaan musik.
Diperkirakan bahwa gong-gong pertama berasal pula dari Asia Selatan, karena di dekat Annam, pada tahun 1930-an ditemukan banyak sekali alat dari perunggu, sehingga terbukti bahwa dari sinilah kebudayaan perunggu tersebar tidak hanya ke Indonesia tetapi ke seluruh Asia Tenggara. Maka kebudayaan ini juga disebut “kebudayaan Dong-son”. Kebudayaan ini berlangsung dari abad 7-1 Sebelum Masehi dan mencapai puncaknya pada abad 3-2 Sebelum Masehi. Bagaimana dengan musik dalam kebudayaan Dong-son? Kita tidak tahu apa-apa tentang musik mereka. Diperkirakan bahwa gong mereka berukuran besar, maka musiknya berat. Menurut ahli sejarah tertentu tangga nada Pelog ikut dibawa ke Indonesia oleh kelompok Proto-Melayu. Menurut Alec Robertson dan Denis StevensPelog mula-mula tersebar di seluruh Asia Tenggara, namun kemudian terutama dipelihara di Jawa dan Bali. Karena tidak ada catatan maka tidak dapat diketahui teori musik yang melatarbelakangi tangga nada yang unik ini. tangga nada
Gong-gong yang dibawa oleh Proto-Melayu dari Cina Selatan ke IndonesiaJawa. Rupa-rupanya mula-mula dipakai untuk upacara mendatangkan hujan secara magig (mistik). ternyata ditemukan dalam penggalian dipengaruhi dari kebudayaan Dong-son ke Indonesia tidak berarti bahwa di Indonesia waktu itu tidak terdapat kebudayaan sendiri, tetapi terjadilah suatu perkembangan : benda-benda dari perunggu dan besi yang masuk “kasalisator”: meski sebelumnya di Indonesia diperkirakan tidak ada perunggu (timah dan kuningan), namun kemudian terbukti bahwa orang Jawa waktu abad-abad pertama Masehi menjadi ahli dalam hal mengolah logam, terutama perunggu.
Fungsi Musik Nusantara
Secara
umum, fungsi musik bagi masyarakat Indonesia antara lain sebagai sarana
atau media upacara ritual, media hiburan, media ekspresi diri, media
komunikasi, pengiring tari, dan sarana ekonomi.
Sarana upacara budaya (ritual)
Musik
di Indonesia, biasanya berkaitan erat dengan upacara- upacara kematian,
perkawinan, kelahiran, serta upacara keagamaan dan kenegaraan. Di
beberapa daerah, bunyi yang dihasilkan oleh instrumen atau alat tertentu
diyakini memiliki kekuatan magis. Oleh karena itu, instrumen seperti
itu dipakai sebagai sarana kegiatan adat masyarakat.
Sarana Hiburan
Dalam
hal ini, musik merupakan salah satu cara untuk menghilangkan kejenuhan
akibat rutinitas harian, serta sebagai sarana rekreasi dan ajang
pertemuan dengan warga lainnya. Umumnya masyarakat Indonesia sangat
antusias dalam menonton pagelaran musik. Jika ada perunjukan musik di
daerah mereka, mereka akan berbondong- bondongmendatangi tempat
pertunjukan untuk menonton.
Sarana Ekspresi Diri
Bagi
para seniman (baik pencipta lagu maupun pemain musik), musik adalah
media untuk mengekspresikan diri mereka. Melalui musik, mereka
mengaktualisasikan potensi dirinya. Melalui musik pula, mereka
mengungkapkan perasaan, pikiran, gagasan, dan cita- cita tentang diri,
masyarakat, Tuhan, dan dunia.
Sarana Komunikasi
Di
beberapa tempat di Indonesia, bunyi- bunyi tertentu yang memiliki arti
tertentu bagi anggota kelompok masyarakatnya. Umumnya, bunyi- bunyian
itu memiliki pola ritme tertentu, dan menjadi tanda bagi anggota
masyarakatnya atas suatu peristiwa atau kegiatan. Alat yang umum
digunakan dalam masyarakat Indonesia adalah kentongan, bedug di masjid,
dan lonceng di gereja.
Pengiring Tarian
Di
berbagai daerah di Indonesia, bunyi- bunyian atau musik diciptakan oleh
masyarakat untuk mengiringi tarian- tarian daerah. Oleh sebab itu,
kebanyakan tarian daerah di Indonesia hanya bisa diiringi olehmusik
daerahnya sendiri. Selain musik daerah, musik- musik pop dan dangdut
juga dipakai untuk mengiringi tarian- tarian modern, seperti dansa,
poco- poco, dan sebagainya.
Sarana Ekonomi
Bagi
para musisi dan artis professional, musik tidak hanya sekadar berfungsi
sebagai media ekspresi dan aktualisasi diri. Musik juga merupakan
sumber penghasilan. Mereka merekam hasil karya mereka dalam bentuk pita
kaset dan cakram padat (Compact Disk/CD) serta menjualnya ke pasaran.
Dari hasil penjualannya ini mereka mendapatkan penghasilan untuk
memenuhi kebutuhan hidup. Selain dalam media kaset dan CD. Para musisi
juga melakukan pertunjukan yang dipungut biaya. Pertunjukan tidak hanya
dilakukan di suatu tempat, tetapi juga bisa dilakukan di daerah- daerah
lain di Indonesia ataupun di luar Indonesia.
RAGAM MUSIK INDONESIA
Indonesia
memiliki ragam musik yang kaya dan beragam. Ragam musik di Indonesia
dapat dibedakan atas musik tradisional, musik keroncong, musik dangdut,
musik perjuangan, dan musik pop.Berikut penjelasan tentang ragam musik
yang berkembang di Indonesia.
Musik daerah (musik tradisional)
Musik
daerah atau musik tradisional adalah musik-musik yang lahir dan
berkembang dari daerah-daerah yang berada di seluruh negara Indonesia.
Musik ini memiliki ciri khas, ciri khas dari musik tradisional ini
terletak pada isi lagu dan instrument (alat musik) yang di gunakan untuk
mengiringi lagu tersebut. Selain itu musik tradisional memiliki
karakteristik masing-masing, yaitu syair dan melodi lagu menggunakan
bahasa , gaya berbicara,dan alat musik daerah setempat. Indonesia
merupakan negara kepulauan yang memiliki ribuan jumlah pulau. Dari
sekian banyak pulau beserta masyarakatnya tersebut lahir,tumbuh dan
berkembang seni musik tradisional yang menggambarkan identitas (jati
diri),media ekspresi, dan kebudayaan dari masyarakat pendukung daerah
setempat.
Hampir
di seluruh wilayah Indonesia memiliki seni musik daerah atau
tradisional yang khas. Ke -khasan dan keunikan tersebut dapat kita lihat
dari teknik permainannya,penyajian musiknya maupun bentuk dari
instrument musiknya. Hampir seluruh seni tradisional di Indonesia
mempunyai semangat kolektivitas yang tinggi sehingga dapat di kenali
karakter khas dari orang atau masyarakat Indonesia, yaitu bangsa yang
ramah dan sopan. Tapi pada masa sekarang semangat kedaerahan mulai
meluntur, tradisi,nilai-nilai budaya dan kebersamaan sudah mulai
terkikis dan seni daerah dan tradisional pun sudah mulai menghilang.
Begitu banyaknya seni tradisi yang dimiliki bangsa Indonesia, maka untuk
lebih mudah mengenalinya dapat di golongkan menjadi beberapa kelompok
yaitu alat musik atau instrumen perkusi, petik dan juga gesek.
Instrumen musik perkusi
Perkusi
adalah nama atau sebutan bagi semua instrument (alat musik) yang cara
atau teknik permainannya dengan cara di pukul. Memukul instrument
perkusi ini dapat menggunakan tangan atau stik (batang atau alat
pemukul). Dalam hal ini banyak sekali alat musik yang tergolong dalam
instrument perkusi, alat musik tersebut diantaranya adalah: gamelan,
arumba, kendang, kolintang, tifa, talempong, rebana, bedug, jimbe dan
masih banyak lagi yang lainnya.
Gamelan
adalah alat musik yang terbuat dari bahan logam. Logam tersebut di
bentuk sehingga menghasilkan bunyi-bunyian yang indah. Gamelan berasal
dari daerah Jawa Tengah, Di Yogyakarta, Jawa Timur juga dari Jawa Barat.
Di Jawa Barat, gamelan biasa disebut dengan degung dan di daerah Bali
disebut gamelan Bali. Satu perangkat lengkap gamelan terdiri dari
instrument saron, demung, goong, kenong, slenthem, boning dan beberapa
instrument pelengkap lainnya. Gamelan ini memiliki jenis nada
pentatonis.
Talempong
adalah seni musik tradisi khas dari Minangkabau (Sumatera Barat).
Talempong adalah alat musik yang memiliki nada diatonis (do, re, mi, fa,
sol, la, ti, do)
Kolintang
atau kulintang adalah alat musik yang berasal dari daerah Minahasa
(Sulawesi utara). Kolintang mempunyai tangga nada diatonic yang semua
instrumennya terdiri dari bas, melodis, dan ritmis. Bahan dasar untuk
membuat alat musi kolintang adalah kayu. Cara untuk memainkan alat musik
kolintang ini adalah dengan cara dipukul menggunakan stik (alat
pemukul).
Arumba
adalah singkatan dari alunan rumput bamboo. Arumba ini berasal dari
daerah Jawa Barat. Alat musik arumba ini adalah alat musik yang terbuat
dari bahan dasar bamboo yang dimainkan dengan melodis dan ritmis. Pada
awalnya arumba menggunakan tangga nada pentatonic, namun dalam
perkembangannya kini arumba menggunakan tangga nada diatonic. Instrumen
ini harus dimainkan secara ramai dan bersama agar dapat menghasilkan
suara yang indah.
Kendang
adalah Jenis alat musik perkusi yang membrannya berasal dari kulit
hewan dan rangkanya dari kayu. Kendang atau gendang dapat sangat banyak
di jumpai di seluruh wilayah Indonesia. Di Jawa barat kendang memiliki
peranan penting dalam mengiringi tarian jaipong khas jawa barat. Di Jawa
Tengah, Bali, DI Yogyakarta, dan jawa Timur, kendang selalu digunakan
dalam mengiringi permainan gamelan baik untuk mengiringi
tarian,pementasan wayang ataupun ketoprak.
Tifa
adalah alat musik perkusi yang jenisnya sama dengan kendang. Alat musik
ini dapat dijumpai di daerah Papua, Maluku, dan daerah Nias.
Rebana
adalah jenis gendang yang ukurannya bervariasi dari yang kecil hingga
yang besar. Rebana adalah alat musik yang biasa digunakan dalam kesenian
yang berbau Islam. Alat musik Rebana dapat di jumpai di sebagian daerah
di wilayah Indonesia.
Instrumen Musik Petik
Sasando adalah alat musik petik berasal dari daerah Nusa tenggara timur (Timor). Kecapi
ini terbuat dari bambu dengan diberi dawai atau senar sedangkan untuk
resonasinya di buat dari anyaman daun lontar yang mempunyai bentuk
setengah bulatan.
Sampek
(sampe atau sapek) adalah alat musik petik yang bentuknya menyerupai
gitar. Alat musik ini berasal dari daerah Kalimantan. Alat musik Sampek
ini terbuat dari bahan dasar kayu yang di penuhi dengan ornament atau
ukiran yang indah di sekelilingnya. Alat musi yang jenis dan bentuknya
hampir sama dengan sampek ini adalah Hapetan dari daerah tapanuli dan
jungga dari daerah Sulawesi Selatan
Instrumen Musik Gesek
Instrumen
musik gesek adalah alat musik yang cara memainkannya di gesek.
Instrument musik tradisional yang menggunakan teknik permainan di gesek
diantaranya adalah Rebab. Rebab berasal dari daerah jawa Barat, Jawa
Tengah, dan Jakarta (dalam kesenian betawi). Alat musik Rebab terbuat
dari bahan dasar kayu dan resonatornya ditutupi dengan kulit tipis. Alat
musik ini memiliki dua buah senar atau dawai dan memiliki tangga nada
jenis pentatonic. Alat musik daerah lainnya yang memiliki bentuk
menyerupai rebab adalah Ohyan, yang resinatornya terbuat dari tempurung
batok kelapa. Rebab jenis ini banyak di jumpai di daerah Bali, jawa, dan
Kalimantan Selatan.
Instrumen Musik Tiup
Suling
adalah alat musik yang cara memainkannya ditiup. Suling adalah
instrument musik tiup yang terbuat dari bahan bamboo. Hampir di semua
daerah di Indonesia memiliki alat musik jenis ini.
Saluang
adalah alat musik tiup yang berasal dari daerah Sumatera barat, selain
itu alat musik tiup serunai juga dapat ditemui di daerah Sumatera Utara
dan Kalimantan. Alat musik tiup lainnya adalah Suling Lembang yang
berasal dari daerah toraja. Suling ini memiliki panjang sekitar 40-100
cm dengan garis tengah atau diameter 2 cm.
Tarompet,
serompet atau selompret adalah jenis instrumen musik tiup yang memiliki
4 sampai 6 lubang nada dan bagian untuk meniupnya berbentuk corong.
Seni musik tradisional yang menggunakan jenis alat musik seperti ini adalah kesenian rakyat Tapanuli, Jawa barat, jawa timur, Madura dan papua.
Musik Keroncong
Secara
umum, musik keroncong memiliki harmoni musik dan improvisasi yang
sangat terbatas. Umumnya lagu- lagunya memiliki bentuk dan susunan yang
sama. Syair- syairnya terdiri atas beberapa kalimat (umumnya 7 kalimat)
yang di selingi dengan permainan alat musik.
Musik Dangdut
Musik
dangdut ini tercipta dari perpaduan antara musik asal india dengan
musik Melayu. Musik dangdut ini berkembang dan menampilkan ciri dan
kekhasannya yang berbeda dari musik akarnya. Ciri khas dari musik jenis
ini terletak pada hentak pukulan alat musik tabla (sejenis alat perkusi
yang menghasilkan bunyi Ndut).
Irama dari musik dangdut ini ringan, sehingga mendorong para penyanyi
dan pendengarnya untuk bergoyang menggerakan anggota badannya. Sebagian
orang memang menganggap musik dangdut sebagai musik rendahan tetapi
nyatanya sampai sekarang musik dangdut masih tetap bertahan.Lagu dan
liriknya pun mudah dicerna sehingga cukup mudah diterima di berbagai
kalangan masyarakat.
Musik Perjuangan
Musik
ini terlahir karena kondisi masyarakat Indonesia yang sangat sulit pada
masa dijajah oleh bangsa asing. Dengan menggunakan musik perjuangan,
para pejuang membakar semangat persatuan dan perjuangan untuk melawan
para penjajah. Syair-syair yang digunakan dalam lagu perjuangan berisi
ajakan untuk berjuang dan ajakan untuk rela berkorban demi merdekanya
tanah air Indinesia. Irama dan nada dari lagu jenis ini dibuat dengan
tempo cepat dan bersemangat serta dibagian akhir lagu diakhiri dengan
semarak.
Pada
masa pemerintah Jepang, para seniman memperoleh sedikit kebebasan untuk
mengungkapkan gagasan dan rasa patriotismenya. Pada masa inilah lagu
kebangsaan Indonesia Raya mulai dapat dinyanyikan secara utuh
sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. Selain itu ada pula lagu-lagu
yang ditulis untuk menggambarkan keindahan tanah air Indonesia serta
kecintaan terhadap bangsa, Negara, dan tanah air Indonesia. Sebagai
contoh beberapa lagu yang diciptakan oleh Ismail Marzuki, diantaranya
“Rayuan Pulau Kelapa”, “Indonesia Pusaka”, dan lain sebagainya.
Musik Populer (pop)
Musik
pop merupakan musik masa kini (musik modern). Musik pop ini memiliki
ciri khas musik yang bebas. Di samping itu ciri dari musik pop adalah
penggunaan ritme yang bebas dan luas serta mengutamakan permainan drum,
gitar, dan bas. Komposisi melodi dari musik pop mudah dicerna. Biasanya
para muisi pop ini sering menambahkan variasi gaya sendiri, yang
beraneka ragam demi menambah daya tarik dan penghayatan dari pendengar
atau penonton. Musik pop saat ini diminati oleh berbagai kalangan. Saat
ini semakin banyak band-band baru yang bermunculan. Mereka mengusung
jenis lagu pop masing-masing. Band - band ini menambah semarak
perkembangan musik pop di Indonesia. Musik pop dibedakan menjadi musik
pop anak- anak dan musik pop dewasa.
Dengan
semakin berkembangnya musik di tanah air ini, besar harapan semoga para
pekerja musik di tanah air ini tetap mempertahankan budaya yang ada.
Sehingga musik – musik daerah tetap bisa bertahan.
Berikut alat-alat musik yang hanya dijumpai di Indonesia :
- Angklung
- Bedug
- Calung
- Demung
- Gong
- Gong gedhe
- Gong kebyar
- Kendang
- Saron
- Gendang Karo
- Gendrum
- Kacapi
- Ketipung
- Kolintang
- Pereret Pengasih-asih
- Rebab
- Rebana
- Saluang
- Sasando
- Slenthem
- Talempong
- Tambo
- Tifa
- Triton
Perkembangan Musik di Indonesia pada Masa Hindu-Buddha.
Sejarah Singkat Masa Hindu-Buddha di Indonesia .
Indonesia mulai berkembang pada zaman kerajaan Hindu-Buddha
berkat hubungan dagang dengan negara-negara tetangga maupun yang lebih
jauh seperti India, Tiongkok, dan wilayah Timur Tengah. Agama Hindu
masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal tarikh Masehi, dibawa oleh
para musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya, yang di Jawa
terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para musafir
dari Tiongkok yakni musafir Budha Pahyien.
Pada
abad ke-4 di Jawa Barat terdapat kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha,
yaitu kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda
sampai abad ke-16.
Pada
masa ini pula muncul dua kerajaan besar, yakni Sriwijaya dan Majapaht.
Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya
berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I-Tsing mengunjungi
ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya,
Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Tengah dan Kamboja. Abad ke-14
juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur,
Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada,
berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya
adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari
masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dan pembentukan kebudayaan
Jawa, seperti yang terlihat dalam wiracarita Ramayana.
Masuknya
ajaran Islam pada sekitar abad ke-12, melahirkan kerajaan-kerajaan
bercorak Islam yang ekspansionis, seperti Samudera Pasai di Sumatera dan
Demak di Jawa. Munculnya kerajaan-kerajaan tersebut, secara
perlahan-lahan mengakhiri kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, sekaligus
menandai akhir dari era ini.
Kerajaan Besar Yang ada pada masa Hindu-Buddha.
1. Tarumanegara
Tarumanagara atau Kerajaan Taruma
adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah barat pulau Jawa
pada abad ke-4 M hingga abad ke-7 M. Taruma merupakan salah satu
kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan catatan sejarah yang
banyak. Dalam catatan sejarah dan peninggalan artefak di sekitar lokasi
kerajaan, terlihat bahwa pada saat itu Kerajaan Tarumanegara adalah
kerajaan Hindu yang beraliran Wisnu.
2. Singhasari
Kerajaan Singhasari atau sering pula ditulis Singasari atau Singosari,
adalah sebuah kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok pada
tahun 1222. Lokasi kerajaan ini sekarang diperkirakan berada di daerah
Singosari, Malang. Berdasarkan prasasti Kudadu, nama resmi Kerajaan
Singhasari yang sesungguhnya ialah Kerajaan Tumapel. Menurut Nagarakretagama, ketika pertama kali didirikan tahun 1222, ibu kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja.
Pada tahun 1254, Raja Wisnuwardhana mengangkat putranya yang bernama
Kertanagara sebagai yuwaraja dan mengganti nama ibu kota menjadi Singhasari.
Nama Singhasari yang merupakan nama ibu kota kemudian justru lebih
terkenal daripada nama Tumapel. Maka, Kerajaan Tumapel pun terkenal pula
dengan nama Kerajaan Singhasari. Nama Tumapel juga muncul dalam kronik
Cina dari Dinasti Yuan dengan ejaan Tu-ma-pan.
3. Sriwijaya
Sriwijaya atau juga disebut Srivijaya
adalah salah satu kemaharajaan maritim yang kuat di pulau Sumatera dan
banyak memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah kekuasaan membentang
dari Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kalimantan,
dan Sulawesi. Dalam bahasa Sansekerta, sri berarti "bercahaya" dan wijaya berarti "kemenangan". Bukti
awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang
pendeta Tiongkok, I Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun
671 dan tinggal selama 6 bulan. Selanjutnya prasasti yang paling tua
mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, yaitu prasasti Kedukan
Bukit di Palembang, bertarikh 682. Kemunduran pengaruh Sriwijaya
terhadap daerah bawahannya mulai menyusut dikarenakan beberapa
peperangan diantaranya serangan dari raja Dharmawangsa Teguh
dari Jawa di tahun 990, dan tahun 1025 serangan Rajendra Chola I dari
Koromandel, selanjutnya tahun 1183 kekuasaan Sriwijaya dibawah kendali
kerajaan Dharmasraya. Setelah Sriwijaya jatuh, kerajaan ini
terlupakan dan eksistensi Sriwijaya baru diketahui secara resmi tahun
1918 oleh sejarawan Perancis George Cœdès dari École française d'Extrême-Orient.
4. Kerajaan Medang
Kerajaan Medang (atau sering juga disebut Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu)
adalah nama sebuah kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8,
kemudian berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10. Para raja kerajaan
ini banyak meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang
tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta membangun banyak candi
baik yang bercorak Hindu maupun Buddha. Kerajaan Medang akhirnya runtuh
pada awal abad ke-11.
5. Majapahit
Majapahit
adalah sebuah kerajaan di Indonesia yang pernah berdiri dari sekitar
tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya dan
mejadi Kemaharajaan raya yang menguasai wilayah yang luas pada masa
kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389.
Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai
Nusantara dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam
sejarah Indonesia Kekuasaannya terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, hingga Indonesia timur, meskipun wilayah kekuasaannya masih diperdebatkan.
Musik di masa Hindu-buddha.
Suatu
‘revolusi’ terjadi pada abad 1 Sebelum Masehi di waktu dibuat kapal
besar-besar di teluk PersiaLaut Cina. Maka lalu lintas ke Indonesia pun
menjadi intensif (sebelumnya diperkirakan lalu lintas terjadi terutama
lewat daratan). Terutama pedagang India mendatangi daerah-daerah
Indonesia sejak abad 2 dan 3 Masehi untuk perdagangan. Maka pengaruh
India di Indonesia dan tambah besar, baik dari segi perdagangan dan
politik maupun agama dan kebudayaan.
Dari
dokumen-dokumen dan penemuan nampak bahwa agama Budha masuk kepulauan
IndonesiaSumatera pada awal abad 7 Masehi dalam kerajaan Sriwijaya dan
kemudian di Jawa dengan kerajaan Syailendra (750-850 Masehi). Pengaruh
kebudayaan India mencapai puncaknya dari pertengahan abad 8 Masehi
sampai abad 11 Masehi dimana fase kreativitas yang sangat tinggi. Pada
masa itu berkembanglah kebudayaan Jawa berupa musik dan tari, arsitektur
dan seni rupa, pada waktu itu dibangunlah Candi Borobudur dan Candi
PrambananIndonesia dari masa lalu sampai sekarang. pada abad 4 Masehi.
Mereka mendirikan pusatnya di pulau yang menjadi kebanggaan bangsa
Selain tangga nada Pelog dipakai juga tangga nada Slendro yang bentuk dan rupanya diperkenalkan oleh Dinasti Syailendra pada abad 8 Masehi. Menurut cerita tangga nada ini ditemukan oleh dewa Barata Endra atas petunjuk dewa Shiva. Merurut teori, satu oktaf dibagi dalam 5 interval yang sama (6/5 dari sekon besar). Namun ternyata tidak selalu demikian. Malah dalam penggalian di JawaCina dan musik India. ditemukan alat-alat kuno dengan tangga nada yang mirip dengan tangga nada pentatonic (dengan interval sekon-sekon dan terts kecil), sama halnya dengan tangga nada. Perkembangan musik sangat dipengaruhi oleh drama Hindu dalam bahasa Sansekerta Ramayana. Drama ini diterjemakan dan diolah bebas dalam banyak bahasa di Asia Tenggara. Pementasan dari fragmen-fragmen drama ini sangat disukai. Sesudah abad 9 Masehi terdapat terjemahan dalam bahasa Jawa dan paling sedikit sejak abad 11 Masehi dipentaskan di Jawa. Selain Pementasan tari berkembanglah pula versi wayang, suatu tradisi yang nampaknya berasal dari jaman pra-Hindu.
Selain tangga nada Pelog dipakai juga tangga nada Slendro yang bentuk dan rupanya diperkenalkan oleh Dinasti Syailendra pada abad 8 Masehi. Menurut cerita tangga nada ini ditemukan oleh dewa Barata Endra atas petunjuk dewa Shiva. Merurut teori, satu oktaf dibagi dalam 5 interval yang sama (6/5 dari sekon besar). Namun ternyata tidak selalu demikian. Malah dalam penggalian di JawaCina dan musik India. ditemukan alat-alat kuno dengan tangga nada yang mirip dengan tangga nada pentatonic (dengan interval sekon-sekon dan terts kecil), sama halnya dengan tangga nada. Perkembangan musik sangat dipengaruhi oleh drama Hindu dalam bahasa Sansekerta Ramayana. Drama ini diterjemakan dan diolah bebas dalam banyak bahasa di Asia Tenggara. Pementasan dari fragmen-fragmen drama ini sangat disukai. Sesudah abad 9 Masehi terdapat terjemahan dalam bahasa Jawa dan paling sedikit sejak abad 11 Masehi dipentaskan di Jawa. Selain Pementasan tari berkembanglah pula versi wayang, suatu tradisi yang nampaknya berasal dari jaman pra-Hindu.
Waktu
orang Hindu datang ke Jawa, maka mereka telah menemukan bermacam-macam
alat musik. Dalam relief pada Borobudur terdapat alat musik local maupun
alat musik yang diimpor dari India seperti gendamg, termasuk gendang
dari tanah dengan kulit hanya di satu sisi, kledi, suling, angklung,
alat tiup (semacam hobo), xylofon (bentuknya setengah gambang, setengah
calung), sapeq, sitar dan harpa dengan 10 dawai, lonceng dari perunggu
dalam macam-macam ukuran, gong, saron, bonang. Tidak dapat disangkal
bahwa alat musik mula-mula dimainkan menurut kebiasaan India. Selain itu
dari penggalian-penggalian di Jawa Tengah telah ditemukan sejumlah
besar kumpulan bonang, nada-nada gender dan saron, lonceng, gendang,
gong-gong, namun tidak jelas dari abad berapa. Tidak semua alat musik
tersebut di atas bertahan di Jawa dalam perkembangan waktu selanjutnya.
Namun nampak bahwa alat musik ini telah dipakai sebelum jaman Hindu.
Perlu diketahui bahwa musik gamelan sebagai musik herefon dengan pola
ritme yang kaya, keindahannya terletak justru dalam bunyi bersama dari
lagu dan irama yang saling melengkapi menjadi satu ‘simfoni nada dan
irama’. Sedangkan musik India termasuk musik solotis (vocal maupun
instrumental) meskipun dimainkan juga dalam ansambel sebagai iringan.
Namun aneka ragam alat musik di India tidak digabungkan dalam satu
orkes, untuk memberi kebebasan pada penyanyi dan pemain. Bahwa seni
musik sejak dulu di Jawa mendapat suatu penghargaan tinggi, dapat
disimpulkan dari banyaknya gambar alat musik dalam relief-relief dari
jaman itu serta dari naskah-naskah kuno yang rajin menyebut nama alat
musik dan sebagainya. Jadi Gamelan sebagai orkes mengalami suatu
perkembangan alat musik yang berasal dari India diintergrasikan ke dalam
musik tradisional Jawa: gong-gong dalam macam-macam bentuk dan ukuran,
gambang ditambah sejumlah alat lain yang sebagian ditinggalkan dalam
perkembangan jaman. Bahwa terjadilah suatu perkembangan musik gamelan
(sampai sekarang) membuktikan betapa tinggi musik ini hingga tidak ada
bandingnya di Negara lain di Asia Tenggara.
Pada
masa abad 11 pusat politik pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur dengan
Kerajaan Airlangga yang berhasil menaklukkan seluruh Jawa (1037),
Setelah itu dilanjutkan oleh kerajaan Singasari pada abad 13. Wilayah
kekuasaan sampai Kerajaan Majapahit (didirikan oleh Raden Wijaya dengan
patihnya yang tersohor Gajah Mada). Dengan patihnya Gajah Mada pada
tahun 1350-1389 merupakan puncak kejayaan Majapahit dengan Pemerintahan
Hayam Wuruk. Seluruh kepulauan (termasuk kerajaan Sriwijaya) masuk dalam
wilayah Nusantara (itu nama wilayah kerajaan Majapahit di luar pulau
Jawa). Maka tidak mengherankan bahwa pada waktu itu pun gong yang di
Jawa di bawa ke seluruh Nusantara, Namun itu tidak berarti bahwa semua
pulau memakai juga musik gamelan. Meskipun tangga nada Pelog dikenal
juga di daerah lain, namun umumnya musik di luar Jawa dan Bali mengikuti
pola lain: ritmik yang kaya serta melodic yang agak sederhana
berdasarkan tangga nada pentatonic tanpa setengah nada (pentatonic
anhemitonis) adalah ciri khasnya. Pada akhir jaman Hindu gamelan sudah
lengkap seperti jaman sekarang. Hanya satu alat belum ada: rebab.
Meskipun demikian, menurut Jaap Kunst belum tentu semua alat dimainkan
selalu bersama-sama. Mungkin sekali terdapat suatu ansambel dengan alat
musik lembut yang terutama dipakai di dalam ruang dengan gender, gambang
dan suling.
Selain
itu terdapat ansambel dengan alat musik keras dengan gendang, cymbal
(di Jawa sudah tidak ada), macam-macam gong yang dipakai terutama diluar
gedung untuk pesta dan pawai. Ansambel alat yang keras seperti di Jawa
terdapat terdapat pula di pulau-pulau lain misalnya di Nias dan Flores
Barat. Gamelan Munggang, ansambel orkes gamelan tertua, ternyata
merupakan ansambel macam ini juga. Menurur Kurst, kedua ansambel baru
digabung menjadi satu orkes gamelan sesudah jaman Hindu, Dan inipun
terjadi dalam perkembangan waktu. 1389 – 1520 merupakan jaman kemunduran
dan kehancuran kerajaan Majapahit. Sementara itu di Malaka terjadi
perkembangan kerajaan-kerajaan Islam yang berkuasa sampai Sumetera. 1511
Malaka direbut Portugis dan masuk pula ke Kepulauan Maluku(1522).
Sementara itu di Jawakerajaan Demak, Kerajaan Islam (1500-1546).berdiri
Kesultanan Demak menguasai seluruh Jawa dan sebagian besar kepulauan di
luar Jawa,
Sejarah perkembangan music pada priode islam
Pada
awal era kejayaan Islam, telah lahir tokoh-tokoh besar di bidang seni
musik. Para ilmuwan Muslim juga telah menjadikan musik sebagai media
pengobatan atau terapi. Kegemilangan peradaban Islam ditandai dengan
kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan
kebudayaan ini bersentuhan erat dengan moral Islam, budaya Arab, dan
kebudayaan besar lainnya.
Oleh karena itu, yang disebut sebagai kebudayaan Islam tidak selamanya berasal dari Arab. Bisa jadi ia hasil adopsi atau akulturasi antara budaya Arab dan budaya luar. Musik adalah contohnya. Sejarah membuktikan bahwa musik yang selama ini dikenal sebagai musik Islam ternyata tidak murni berasal dari Arab. Kesenian ini lahir dari kearifan umat Muslim terdahulu yang mengolaborasikan musik-musik dari Arab, Persia, India, dan Yunani.
Oleh karena itu, yang disebut sebagai kebudayaan Islam tidak selamanya berasal dari Arab. Bisa jadi ia hasil adopsi atau akulturasi antara budaya Arab dan budaya luar. Musik adalah contohnya. Sejarah membuktikan bahwa musik yang selama ini dikenal sebagai musik Islam ternyata tidak murni berasal dari Arab. Kesenian ini lahir dari kearifan umat Muslim terdahulu yang mengolaborasikan musik-musik dari Arab, Persia, India, dan Yunani.
Seni
musik telah mendapat perhatian besar sejak Dinasti Umayyah. Hal itu
ditandai dengan maraknya kegiatan penerjemahan kitab-kitab seni musik ke
dalam bahasa Arab. Tradisi pengkajian dan permainan musik semakin
berkembang pada era Dinasti Abbasiyah.
Banyak
ilmuwan Muslim yang menerjemahkan buku-buku tentang musik dari Yunani,
terutama pada masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun. Prof A Hasmy dalam
bukunya mengenai Sejarah Kebudayaan Islam mencatat bahwa pada masa
Dinasti Abbasiyah, kegiatan kepengarangan tentang seni musik berkembang
pesat.
Sekolah-sekolah
musik didirikan oleh kesultanan di berbagai kota dan daerah, baik
sekolah tingkat menengah maupun sekolah tingkat tinggi. Sekolah musik
yang bagus dan berkualitas tinggi adalah yang didirikan oleh Sa’id
‘Abd-ul-Mu’min (wafat tahun 1294 M).
Tak
heran jika pada awal era kejayaan Islam telah lahir tokoh-tokoh besar
di bidang seni musik. Ada musisi ternama dan sangat disegani, yaitu
Ishaq Al-Mausili (767 M-850 M). Ada pula pengkaji seni musik yang
dihormati, seperti Yunus bin Sulaiman Al-Khatib (wafat tahun 785 M).
Munculnya seniman dan pengkaji musik di dunia Islam menunjukkan bahwa
umat Muslim tidak hanya melihat musik sebagai hiburan. Lebih dari itu,
musik menjadi bagian dari ilmu pengetahuan yang dikaji melalui
teori-teori ilmiah.
Yang
menarik lagi, para ilmuwan Muslim juga telah menemukan musik sebagai
media pengobatan atau terapi. Tokoh dalam bidang ini di antaranya adalah
Abu Yusuf Yaqub ibnu Ishaq al-Kindi (801-873 M) dan al-Farabi (872-950
M). Kajian tentang musik sebagai sistem pengobatan berkembang semakin
pesat pada masa Dinasti Turki Usmani.
Cabang matematika dan filsafat
Pada
awal berkembangnya Islam, musik diyakini sebagai cabang dari matematika
dan filsafat. Tak heran jika banyak di antara para matematikus dan
filsuf Muslim terkemuka yang juga dikenal karena sumbangan pemikirannya
terhadap perkembangan seni musik. Salah satu di antaranya adalah
Al-Kindi (800 M-877 M). Ia menulis tak kurang dari 15 kitab tentang
musik, namun yang masih ada tinggal lima. Al-Kindi adalah orang pertama
yang menyebut kata musiqi.
Tokoh
Muslim lainnya yang juga banyak menyumbangkan pemikirannya bagi musik
adalah Al-Farabi (870 M-950 M). Ia tinggal di Istana Saif al-Dawla
Al-Hamdan¡ di Kota Aleppo. Matematikus dan filsuf ini juga sangat
menggemari musik serta puisi. Selama tinggal di istana itu, Al-Farabi
mengembangkan kemampuan musik serta teori tentang musik.
Al-Farabi
juga diyakini sebagai penemu dua alat musik, yakni rabab dan qanun. Ia
menulis tak kurang dari lima judul kitab tentang musik. Salah satu buku
musiknya yang populer bertajuk, Kitabu al-Musiqa to al-Kabir atau The
Great Book of Music yang berisi teori-teori musik dalam Islam.
Pemikiran
Al-Farabi dalam bidang musik masih kuat pengaruhnya hingga abad ke-16
M. Kitab musik yang ditulisnya itu sempat diterjemahkan oleh Ibnu Aqnin
(1160 M-1226 M) ke dalam bahasa Ibrani. Selain itu, karyanya itu juga
dialihbahasakan ke dalam bahasa Latin berjudul De Scientiis dan De Ortu
Scientiarum. Salah satu ahli teori musik Muslim lainnya adalah Ibnu
Sina.
NYANYIAN DAN MUSIK DALAM KEHIDUPAN KAUM MUSLIMIN
Pada
masa dahulu kaum Muslimin bisa membuat untuk diri mereka berbagai jenis
lagu untuk dinikmati oleh telinga. Mereka dapat menghibur diri mereka
dan memperindah nuansa kehidupan dengan lagu-lagu itu, terutama di
pedesaan dan kampung-kampung. Kami juga merasakannya pada waktu kecil
dan di masa muda. Semuanya merupakan bentuk lagu yang tumbuh dari
lingkungan yang sehat, menggambarkan nilai-nilainya, dan tidak menjadi
masalah sama sekali.
Di
antaranya lagi seni "Al Mawaawil" jenis peralatan musik yang dengan
alat ini manusia bernyanyi untuk diri mereka sendiri atau mereka
berkumpul untuk mendengarkannya dari orang yang baik suaranya di antara
mereka. Kebanyakan mereka berbicara tentang cinta dan persahabatan,
sebagian yang lainnya berbicara tentang dunia dan keindahannya, serta
mengadu tentang kezhaliman manusia dan hari-hari ... dst.
Kebanyakan
mereka menyanyi tanpa alat, sebagian lagi menggunakan "Arghul" (biola),
dan di antara para artis ada yang membuat "Al Mawwaf" pada saat yang
sama ia menyanyi.
Di
antara lagu-lagu yang baik adalah yang didapatkan melalui kisah-kisah
yang digubah menjadi lagu-lagu perjuangan para pahlawan bangsa, pahlawan
perjuangan yang gigih dan pemberani. Lagu-lagu itu didengar oleh
masyarakat, mereka turut menyanyikan dan mengulang-ulangnya. Banyak di
antaranya sampai mereka hafal, seperti kisah "Adham Asy Syarqawi,"
"Syafiqah dan Mutawalli," "Ayyub Al Mishri," kisah "Sa'ad Al Yatim" dan
yang lainnya.
Ada
juga yang diangkat dari perjuangan bangsa bagi para pahlawan yang
terkenal, seperti "Abu Zaid Al Hilali." Orang-orang berkumpul untuk
mendengarkan kisah tersebut melalui syair yang dibacakan dengan
lagu-lagu. Ini sangat menarik, seperti fiIm berseri atau sinetron pada
saat ini.
Didapatkan
juga melalui lagu-lagu hari raya, hari-hari gembira dengan
acara-acaranya yang menggembirakan, seperti pesta perkawinan, kelahiran
anak, acara khitanan, kehadiran tamu yang ditunggu-tunggu, kesembuhan
seseorang, berpulangnya orang dari ibadah haji dan lain-lain.
Masyarakat
membuat lagu-lagu atau pantun-pantun yang menandai saat-saat dan
momen-momen tertentu atau pada acara yang beragam, seperti saat memetik
buah atau panen raya dan lainnya. Seperti juga tembangnya para pekerja,
buruh yang bekerja di sebuah proyek dan mereka yang bersama-sama
mengangkat beban yang berat, kemudian melagukan bersama-sama, "Haila,
haila, shalli 'AIa Nabi." Ini mempunyai landasan syar'i dari perbuatan
sahabat, yaitu ketika mereka membangun masjid Nabawi dan memikul
batu-batu di pundak mereka sambil melagukan:
"Ya Allah sesungguhnya kehidupan (yang hakiki) adalah kehidupan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin."
Sampai
ibu-ibu pun ketika mengayun-ayun anak-anaknya dan menidurkan mereka
mempergunakan lagu-lagu, mereka memiliki kata-kata yang terkenal,
seperti, "Ya Rabbi yanam, ya Rabbi yanaam."
Saya
masih teringat di setiap bulan Ramadhan Mubarrak, masyarakat Islam
membangunkan manusia di tengah malam dengan sajak dan irama genderang
mereka yang membawa kenikmatan telinga.
Dan
yang menarik untuk diceritakan di sini adalah suara pedang-pedang di
pasar-pasar dan di jalan-jalan yang ditawarkan berkeliling. Mereka
menawarkan barangnya dengan suara dan irama yang teratur, mereka berpacu
sambil menyanyi, seperti juga penjual buah dan sayur-sayuran.
Demikianlah
kita dapatkan seni ini, yakni seni menyanyi telah menyertai seluruh
kehidupan, baik secara agama maupun dunia dan manusia pun menerimanya
secara naluriah. Mereka tidak mendapatkan ajaran agama melarang yang
demikian itu dan ulama mereka pun tidak memandang budaya bangsa ini
sebagai suatu alternatif. Bahkan seringkali lagu-lagu itu dibumbui
dengan lirik-lirik yang mengandung nilai-nilai agama, keimanan dan
ruhani serta akhlaq yang mulia. Seperti bergabungnya antara jasad dengan
ruh, berupa tauhid, dzikrullah, doa, shalawat kepada Nabi SAW dan
lainnya.
MASA KOLONIAL (PENJAJAHAN)
Sebelum
merdeka negara Indonesia lama sekali di jajah. Penjajahan itu pertam
kali di lakukan oleh bangsa Eropa. Bangsa Eropa memasuki wilayah
Indonesia karena keadaan alam Indonesia yang sangat kaya. Adalah Alfonso de Albuquerque karena
tokoh inilah, yang membuat kawasan Nusantara (Indonesia) waktu itu di
kenal oleh orang Eropa dan di mulainya Kolonisasi berabad-abad oleh
Portugis bersama bangsa Eropa lain, terutama Inggris dan Belanda.
Ketika orang-orang Eropa dating ke Indonesia pada
awal abad ke-16, mereka menemukan beberapa kerajaan yang dengan mudah
dapat mereka kuasai demi mendominasi perdagangan rempah-rempah. Portugis
pertama kali mendarat di dua pelabuhan Kerajaan Sunda, yaitu Banten dan
Sunda Kelapa, tapi dapat diusir dan bergerak ke arah timur dan
menguasai Maluku. Pada abad ke-17, Belanda muncul sebagai negara
yang terkuat di antara negara-negara Eropa lainnya, mengalahkan
Britania Raya dan Portugal (kecuali untuk koloni mereka, Timor
Portugis).
Pada masa itulah agama Kristen masuk ke Indonesia sebagai salah satu misi imperialisme lama yang dikenal sebagai 3G, yaitu Gold, Glory, and Gospel Belanda
menguasai Indonesia sebagai koloni hingga Perang Dunia II, awalnya
melalui VOC, dan kemudian langsung oleh pemerintah Belanda sejak awal
abad ke-19.
Akibat
dari penjajahan ini bangsa Indonesia tertindas dan tersiksa. Mereka di
jadikan budak di negeri sendiri. Bangsa eropa bersenang-senang dengan
hasil bumi yang telah berhasil mereka rampas. Selama masa penjajahan ini
bangsa Indonesia tidak bisa hidup tenang, mereka di cekam rasa
ketakutan. Dan karena itu mulailah banyak bermunculan
organisasi-organisasi yang ingin memerdekakan tanah air dari tangan
bangsa asing (penjajah).
SEJARAH MUSIK
Dari
perjalanan sejarah terlihat bahwa perekembangan musik nasional di
Indonesia pada masa kolonial Belanda (1908-1942) yaitu periode dalam
sejarah pergerakan, bersamaan dengan berdirinya Budi Utomo yang berjuang
pada awal periode itu disebut sebagai angkatan perintis kemerdekaan
masa kolonialisme.
Dalam perjalanan sejarah di Indonesia bangsa Belanda pernah mengajarkan instrumen musik asal
Barat kepada abdi dalem Kesultanan Kraton Yogyakarta dan Kasunanan
Kraton Surakarta. Hal ini dilakukan,tujuannya agar dapat memainkan lagu
kebangsaan ‘Wilhelmus’ saat upacara kunjungan tamu resmi pejabat dari
negeri Belanda. Pada tanggal 26 mei 1923, terbentuklah tradisi musik
diatonik yang dikembangkan dengan baik oleh Walter Spies dan beberapa
orang Eropa serta seorang Letnan Angkatan Darat Hindia Belanda
Dongelman.
Pada
tanggal 28 Oktober 1928, pemuda Indonesia mengucapkan ikrar sumpah
pemuda, yaitu Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa. Sebagai simbol
ikrar teks sumpah pemuda tersebut, berkumandanglah lagu ‘Indonesia Raya’
untuk pertama kalinya yang diciptakan Wage Rudolf Supratman ( W.R.
Supratman). Diakuinya bahasa melayu sebagai bahasa nasional dan
sekaligus diakuinya musik diatonis sebagai musik nasional, disebabkan
perlakuan istimewa terhadap lagu ‘Indonesia Raya’ sebagai akibat
diakuinya bahasa melayu sebagai bahasa nasional. Hal ini memicu
timbulnya konflik para cendekiawan Jawa pada masa itu yang menginginkan
lagu ‘Indonesia Raya’ menggunakan musik khas Jawa melalui instrumen
pukul gamelan. Upaya telah dilakukan dengan mencoba para empu gamelan
pada tahun 1930-an dengan memodernisir gamelan secara praktek maupun
teori. Perubahan-perubahan dalam notasi musik diantaranya pernah ditulis
dalam buku kecil Muhamad Yamin, bahwa usaha-usaha memainkan lagu
‘Indonesia Raya’ dengan gamelan terbukti mengalami kegagalan, oleh
karena secara teknis lagu itu memakai sistem tangganada diatonis,
sementara instrumen gamelan memakai sistem tangganada pentatonik.
Pada
masa pendudukan Jepang dan Orde Lama 1942-1965, yaitu diawali
perjuangan revolusi Indonesia, sebagai angkatan pendobrak hingga pasca
kolonialisme. Perkembangan musik menjadi isu politik yang beredar,
karena perbedaan pendapat di kalangan para pejuang seniman Indonesia.
Perkembangan musik berfungsi sebagai salah satu sarana pendidikan
nasional mengalir setelah munculnya generasi penerus sesudah W.R.
Supratman dan Mochamad Syafei pendiri INS
Kayu Tanam di Sumatera Barat. Di Jawa di kenal generasi berikutnya
yaitu Ismail Marzuki, Kusbini, Bintang Sudibyo, R. Soenarjo, H. Mutahar,
R.A.J. Soedjasmin dan lain-lain.
PENGARUH MUSIK PADA MASA KOLONIAL (PENJAJAHAN)
Masa
kolonial juga membawa pengaruh besar kedalam seni musik Indonesia. Masa
kolonial ini dimulai dengan masuknya bangsa Eropa ke Indonesia. Bangsa
Eropa yang masuk ke Indonesia dimulai dari bangsa Portugis, Inggris ,
lalu disusul oleh Belanda. Orang-orang Eropa ini (khususnya Portugis)
banyak memperkenalkan alat musik asal Negara mereka. Alat musik tersebut
diantaranya biola, selo(cello), gitar, seruling(flute), dan ukulele. Alat
musik ini akhirnya berkembang dengan sangat pesat di daerah Pulau
Jawa.Para musisi pun menciptakan musik dengan perpaduan musik barat dan
musik Indonesia yang dikenal dengan musik
keroncong. Keroncong yang dikenal sebagai musik khas daerah Jawa
ternyata merupakan keturunan dari musik orang-orang Portugis. Dalam
perkembangannya, sejumlah unsur tradisional asli Nusantara (Indonesia),
seperti penggunaan seruling dan beberapa komponen gamelan membuat
keroncong menjadi khas Nusantara (Indonesia). Dahulu, dalam sejarahnya,
keroncong pertama kali dikenalkan oleh para pelaut asal Portugis di abad
ke-16. Keroncong itu merupakan sejenis musik yang dikenal dengan
sebutan fado oleh bangsa Portugis
Pada
awal tahun 1900 musik keroncong menjadi musik yang jarang diminati dan
kadang di anggap musik randahan. Tapi, setelah tahun 1930-an musik
keroncong mulai berkembang dan banyak diminati. Ini dapat di lihat dari
musik-musik keroncong yang di masukkan ke dalam produksi-produksi film
dalam negeri. Pada saat itu, lagu keroncong yang paling popular adalah
lagu Bengawan Solo yang di ciptakan oleh Gesang Martohartono. Lagu ini
ditulis pada tahun 1940 bersamaan ketika tentara Jepang menguasai pulau
Jawa pada Perang Dunia ke II. Saat ini musik keroncong tidak hanya
dikenal di dalam negeri melainkan di kenal di mancanegara.
Orang-orang
Eropa juga membawa sistem solmisasi dalam berbagai karya lagu. Selain
itu bangsa eropa juga memiliki peranan dalam memperkenalkan tangga nada
diatonis dan sistem penulisan notasi yang saat ini di gunakan oleh hampir seluruh musisi di Indonesia.
PERKEMBANGAN MUSIK KERONCONG DI INDONESIA
Keroncong
bermula dari sejenis musik portugis yang mereka beri nama Fado. Jenis
musik tersebut di perkenalkan di Indonesia oleh para pelaut dan anak
buah kapal niaga sekitar abad 16. Dalam perjalanannya musik keroncong
ini mengalami banyak perkembangan dan perubahan. Perkembangan
tersebut diantaranya masuk sejumlah unsur-unsur yang berasal dari
nusantara, di antaranya pengunaan alat musik tradisional seperti
seruling dan beberapa komponen dari gamelan. Pada sekitar abad 19 jenis
musik yang sudah campuran ini mulai popular di berbagai tempat di
Indonesia.
Awalnya
musik jenis ini dimainkan dengan alat musik yang memiliki dawai,
seperti biola,ukulele dean juga selo. DI Indonesia musik ini mulai
bercampur dengan kesenian tradisional. Alat musik khas nusantara di
gunakan untuk memainkan musik keroncong ini.
Pem-"pribumi"-an keroncong, dengan alat-alat musik seperti
- sitar
- rebab
- suling bambu
- gendang, kenong, dan saron sebagai satu set gamelan
- gong.
Saat ini, alat musik yang dipakai dalam orkes keroncong mencakup
- ukulele cuk, berdawai 3 (nilon), urutan nadanya adalah G, B dan E; sebagai alat musik utama yang menyuarakan crong - crong sehingga disebut keroncong (ditemukan tahun 1879 di Hawai)
- ukulele cak, berdawai 4 (baja), urutan nadanya A, D, Fis, dan B. Jadi ketika alat musik lainnya memainkan tangga nada C, cak bermain pada tangga nada F (dikenal dengan sebutan in F);
- gitar akustik sebagai gitar melodi, dimainkan dengan gaya kontrapuntis (anti melodi);
- biola (menggantikan Rebab); sejak dibuat oleh Amati atau Stradivarius dari Cremona Itali sekitar tahun 1600 tidak pernah berubah modelnya hingga sekarang;
- flute (mengantikan Suling Bambu), pada Era Tempo Doeloe memakai Suling Albert (suling kayu hitam dengan lubang dan klep, suara agak patah-patah, contoh orkes Lief Java), sedangkan pada Era Keroncong Abadi telah memakai Suling Bohm (suling metal semua dengan klep, suara lebih halus dengan ornamen nada yang indah, contoh flutis Sunarno dari Solo atau Beny Waluyo dari Jakarta);
- selo; betot menggantikan kendang, juga tidak pernah berubah sejak dibuat oleh Amati dan Stradivarius dari Cremona Itali 1600, hanya saja dalam keroncong dimainkan secara khas dipetik/pizzicato;
- kontrabas (menggantikan Gong)
TOKOH KERONCONG
Salah
satu tokoh musik keroncong di Indonesia dan memiliki peranan yang
sangat besar dalam membesarkan nama musik keroncong adalah bapak Gesang.
GEsang yang berasal dari kota Surakarta (solo) ini memperkenalkan musik
keroncong hingga ke jepang, dan dari itu semasa hidupnya pak Gesang
mendapat santunan dari pemerintah Jepang setiap tahun. Salah satu
lagunya yang masih terkenal sampai saat ini adalah lagu yang berjudul
Bengawan Solo.
Oleh
para musisi keroncong Indonesia Pak Gesang di beri julukan Buaya
Keroncong yang artinya pakar untuk musik keroncong. Asal mula Gesang di
sebut Buaya Keroncong ini terkait dengan lagu yang dibuatnya yaitu
Bengawan Solo. Bengawan Solo adalah sungai yang berada di sekitar
kawasan Surakarta. Seperti yang diketahui buaya adalah reptile yang
memiliki di habitat atau di sungai. Dan dihabitatnya buaya merupakan
predator ganas yang tak terkalahkan. Pengandaian itulah yang membuat
Gesang di sebut Buaya Keroncong yang artinya ahli keroncong yang tak
akan terkalahkan.
Musik kontemporer
Bapak
musik kontemporer atonal Norwegia adalah Fartein Valen (1877-1952).
Menguasai 12 bahasa, ia merupakan seorang berbakat yang kehidupannya
merupakan misteri dan menggunakan gaya halus yang sulit dimengerti untuk
karya kontemporernya. Walaupun mengenyam pendidikan di Berlin,
mempelajari lagu-lagu Bach secara otodidak merupakan faktor paling
penting dalam perkembangan karirnya. Visinya untuk menciptakan tipe
suara poliphony berdasarkan disonansi menghasilkan sistem 12-nada yang
ia kembangkan bersama dengan, namun secara independen, Arnold
Schönberg.Komunitas musik kontemporer Norway saat ini memainkan peranan
aktif secara nyata bagi kehidupan musik Norwegia. Ny Musikk, bagian dari
International Society for Contemporary Music merupakan pemain penting
dalam area ini. Organisasi ini didirikan oleh komposer Pauline Hall
(1890-1969) pada tahun 1938, setelah menetap di Paris menggugah minatnya
untuk mencoba tren baru. Saat ini, organisasi tersebut memiliki
jaringan nasional yang luas untuk memajukan musik kontemporer dan
mendorongperkembangan komposer dan musisi kontemporer yang baru.
Komposer Norwegia memiliki tradisi untuk mempromosikan karya mereka sendiri, dan telah berjuang untuk mendapatkan penghargaan baik melalui organisasi komposer dan hak cipta di tingkat nasional, Nordic dan internasional. Selama bertahun-tahun, banyak dari komposer penting Norway yang menjabat sebagai ketua NY Musikk. Setelah Pauline Hall, yang dianggap sebagai salah satu dari beberapa impresionis Norway, muncul Finn Mortensen (1890-1969), juara aliran serialisme, diikuti Arne Nordheim, figur terdepan musik elektronik. Mereka yang juga pernah menjabat sebagai ketua adalah Kåre Kolberg, John Persen dan Åse Hedstrøm, yang kesemuanya merupakan komposer yang dihormati. Baik Persen dan Hedstrøm pernah menjabat sebagai direktur festival musik kontemporer yang paling berpengaruh di Norwegia, Ultima – Festival Musik Kontemporer Oslo.
Arne Nordheim (dilahirkan tahun 1931) memiliki posisi istimewa diantara para komposer saat ini. Ia tinggal di Grotten, lingkungan tempat tinggal terhormat Pemerintah Norwegia didekat Kerajaan di Oslo, sebuah penghormatan yang diberikan kepada salah satu artis paling terkemuka. Teman-temannya yang juga mendapat pengakuan internasional adalah Antonio Bibalo dari Italia dan Edvard Hagerup Bull. Generasi penerusnya termasuk Olav Anton Thommessen dan Lasse Thoresen, keduanya menekuni karir sebagai komposer disamping menduduki posisi sebagai profesor komposisi yang berpengaruh di Akademi Musik Norwegia, serta Cecilie Ore, Rolf Wallin dan Asbjørn Schaathun. Generasi yang lebih muda adalah Jon Øyvind Ness, Eivind Buene, Maja Ratkje dan and Lars Petter Hagen.
Komposer Norwegia memiliki tradisi untuk mempromosikan karya mereka sendiri, dan telah berjuang untuk mendapatkan penghargaan baik melalui organisasi komposer dan hak cipta di tingkat nasional, Nordic dan internasional. Selama bertahun-tahun, banyak dari komposer penting Norway yang menjabat sebagai ketua NY Musikk. Setelah Pauline Hall, yang dianggap sebagai salah satu dari beberapa impresionis Norway, muncul Finn Mortensen (1890-1969), juara aliran serialisme, diikuti Arne Nordheim, figur terdepan musik elektronik. Mereka yang juga pernah menjabat sebagai ketua adalah Kåre Kolberg, John Persen dan Åse Hedstrøm, yang kesemuanya merupakan komposer yang dihormati. Baik Persen dan Hedstrøm pernah menjabat sebagai direktur festival musik kontemporer yang paling berpengaruh di Norwegia, Ultima – Festival Musik Kontemporer Oslo.
Arne Nordheim (dilahirkan tahun 1931) memiliki posisi istimewa diantara para komposer saat ini. Ia tinggal di Grotten, lingkungan tempat tinggal terhormat Pemerintah Norwegia didekat Kerajaan di Oslo, sebuah penghormatan yang diberikan kepada salah satu artis paling terkemuka. Teman-temannya yang juga mendapat pengakuan internasional adalah Antonio Bibalo dari Italia dan Edvard Hagerup Bull. Generasi penerusnya termasuk Olav Anton Thommessen dan Lasse Thoresen, keduanya menekuni karir sebagai komposer disamping menduduki posisi sebagai profesor komposisi yang berpengaruh di Akademi Musik Norwegia, serta Cecilie Ore, Rolf Wallin dan Asbjørn Schaathun. Generasi yang lebih muda adalah Jon Øyvind Ness, Eivind Buene, Maja Ratkje dan and Lars Petter Hagen.
KELOMPOK MUSIK KONTEMPORER
Perkembangan musik di Solo, Jawa Tengah, ditandai dengan lahirnya sejumlah kelompok musik
kontemporer. Seperti grup musik Etno Ensemble yang mendominasi
permainan musik dengan perkusi. Uniknya, kelompok tersebut bereksperimen
dengan mengembangkan musik khas reog Ponorogo yang dinamis.
Namun,
Wayan menyayangkan kelompok musik kontemporer yang kurang
mengeksploitasi alat musik lokal, seperti gendang ataupun gamelan.
Selain itu, ia juga menilai masih banyak grup musik kontemporer yang
belum mempunyai jati diri lantaran cenderung memainkan lagu yang sedang
populer.
Meski demikian, hadirnya kelompok musik kontemporer harus diapresiasi. Sebab, mereka mampu memadukan memadukan alat musik tradisional dengan modern untuk menghasilkan harmonisasi yang indah. Terlebih, ini merupakan salah satu cara untuk terus melestarika kebudayaan musik anak bangsa
Meski demikian, hadirnya kelompok musik kontemporer harus diapresiasi. Sebab, mereka mampu memadukan memadukan alat musik tradisional dengan modern untuk menghasilkan harmonisasi yang indah. Terlebih, ini merupakan salah satu cara untuk terus melestarika kebudayaan musik anak bangsa
A. Istilah Kontemporer
Secara spesifik musik kontemporer hanya dapat dipahami dalam hubungan sejarah musik Barat di Eropa dan Amerika. Namun walaupun demikian dapat mengacu terhadap pemahaman yang spesifik, sesungguhnya label kontemporer yang dibubuhkan pada kata seni maupun musik sama sekali tidak menunjukan pengertian definisi yang bersifat normatif. Itulah sebabnya bagi mereka yang awam, seni atau musik kontemporer banyak menimbulkan kesalah pahaman yang berlarut-larut. Apa bila kehadiran budaya baru ini hendak ditransmisikan ke Indonesia sebagai salah satu transformasi budaya modern kita, maka dasar-dasar pijak dan posisinya cepat atau lambat harus ditegaskan. Kalau tidak demikian, maka fenomena budaya besar dunia itu hanya akan kita tangkap sebagai hobi, sebagaimana kita menangkap seni klasik modern dan sebagainya hingga saat ini.1
Perbedaan presepsi mengenai seni kontemporer tidak terjadi di Indonesia saja, di Barat pun demikian. Dalam soal musik, masalah ini lebih terasa. Misalnya, pada acara pembukaan pameran lukisan kontemporer, sering musik disajikan, tetapi musik semacam ini tidak bermakna, hanya berfungsi sebagai tempelan atau latar belakang. Dalam pergelaran musik pun jarang kita mengalami jenis musik yang bersifat kontemporer. Disisi lain pada umumnya para seniman menghibur diri dengan musik populer, baik jazz mainstrem atau fusion, maupun gaya pop-pseudo-avangarde yang sedang ngetrend.2 Musik kontemporer Indonesia adalah sebuah fenomena yang lahir sebagai produk budaya masyarakat Indonesia yang hidup di abad 20. Gejala ini muncul sebagai akibat dari pertemuan antara dua tradisi budaya Indonesia dengan sub kulturnya budaya Eropa. Pertemuan tersebut telah merangsang masyarakat Indonesia untuk menggunakan musik sebagai bahasa ekspresi yang personal. Musik tidak lagi merupakan cermin dari pandangan hidup sebuah komunitas, akan tetapi pandangan hidup seseorang indvidu dengan segala keunikannya. Dari sini muncul sebuah pelembagaan kreativitas yang saat ini kita kenal dalam bentuk sebagai berikut. (1) Pemisahan antara seorang pemain musik dan pencipta yang disusul dengan kemunculan figur seorang komponis. (2) Pembakuan karya musik yang tertuang dalam bentuk notasi. (3) Pementasan musik sebagai peristiwa khusus dalam sebuah gedung pertunjukan yang khusus pula dengan penonton yang tidak berasal dari sebuah komunitas. (4) Musik sebagai sebuah komoditi budaya yang berorientasi pasar. (5) Pembahasan karya musik yang berorientasi kemasalah estetika dengan menekankan aspek-aspek teknik formal. (6) Formalisasi pendidikan komposisi musik dalam program perguruan tinggi. (7) Tekstualisasi pertunjukan musik dalam media massa. Gejala pelembagaan diatas, muncul sebagai hasil dari sebuah transformasi budaya musik Indonesia kedalam sistem budaya musik Barat yang masuk kenegeri ini melalui jalur kolonialisme. Proses inilah yang kemudian membuat dunia musik kontemporer Indonesia menjadi sebuah fenomena politik dan menjadi arena konflik antara berbagai ideologi di awal kemerdekaan.
Secara spesifik musik kontemporer hanya dapat dipahami dalam hubungan sejarah musik Barat di Eropa dan Amerika. Namun walaupun demikian dapat mengacu terhadap pemahaman yang spesifik, sesungguhnya label kontemporer yang dibubuhkan pada kata seni maupun musik sama sekali tidak menunjukan pengertian definisi yang bersifat normatif. Itulah sebabnya bagi mereka yang awam, seni atau musik kontemporer banyak menimbulkan kesalah pahaman yang berlarut-larut. Apa bila kehadiran budaya baru ini hendak ditransmisikan ke Indonesia sebagai salah satu transformasi budaya modern kita, maka dasar-dasar pijak dan posisinya cepat atau lambat harus ditegaskan. Kalau tidak demikian, maka fenomena budaya besar dunia itu hanya akan kita tangkap sebagai hobi, sebagaimana kita menangkap seni klasik modern dan sebagainya hingga saat ini.1
Perbedaan presepsi mengenai seni kontemporer tidak terjadi di Indonesia saja, di Barat pun demikian. Dalam soal musik, masalah ini lebih terasa. Misalnya, pada acara pembukaan pameran lukisan kontemporer, sering musik disajikan, tetapi musik semacam ini tidak bermakna, hanya berfungsi sebagai tempelan atau latar belakang. Dalam pergelaran musik pun jarang kita mengalami jenis musik yang bersifat kontemporer. Disisi lain pada umumnya para seniman menghibur diri dengan musik populer, baik jazz mainstrem atau fusion, maupun gaya pop-pseudo-avangarde yang sedang ngetrend.2 Musik kontemporer Indonesia adalah sebuah fenomena yang lahir sebagai produk budaya masyarakat Indonesia yang hidup di abad 20. Gejala ini muncul sebagai akibat dari pertemuan antara dua tradisi budaya Indonesia dengan sub kulturnya budaya Eropa. Pertemuan tersebut telah merangsang masyarakat Indonesia untuk menggunakan musik sebagai bahasa ekspresi yang personal. Musik tidak lagi merupakan cermin dari pandangan hidup sebuah komunitas, akan tetapi pandangan hidup seseorang indvidu dengan segala keunikannya. Dari sini muncul sebuah pelembagaan kreativitas yang saat ini kita kenal dalam bentuk sebagai berikut. (1) Pemisahan antara seorang pemain musik dan pencipta yang disusul dengan kemunculan figur seorang komponis. (2) Pembakuan karya musik yang tertuang dalam bentuk notasi. (3) Pementasan musik sebagai peristiwa khusus dalam sebuah gedung pertunjukan yang khusus pula dengan penonton yang tidak berasal dari sebuah komunitas. (4) Musik sebagai sebuah komoditi budaya yang berorientasi pasar. (5) Pembahasan karya musik yang berorientasi kemasalah estetika dengan menekankan aspek-aspek teknik formal. (6) Formalisasi pendidikan komposisi musik dalam program perguruan tinggi. (7) Tekstualisasi pertunjukan musik dalam media massa. Gejala pelembagaan diatas, muncul sebagai hasil dari sebuah transformasi budaya musik Indonesia kedalam sistem budaya musik Barat yang masuk kenegeri ini melalui jalur kolonialisme. Proses inilah yang kemudian membuat dunia musik kontemporer Indonesia menjadi sebuah fenomena politik dan menjadi arena konflik antara berbagai ideologi di awal kemerdekaan.
Tokoh music kontemporer
1. Harry Roesli
Profesor psikologi ini bukanlah musisi biasa. Dia melahirkan fenomena budaya musik kontemporer yang berbeda, komunikatif, dan konsisten memancarkan kritik sosial.
Dia mampu secara kreatif melahirkan dan menyajikan kesenian secara
komunikatif. Karya-karyanya konsisten memunculkan kritik sosial secara
lugas dalam watak musik teater lenong.
Beberapa karya musiknya yang terkenal di antaranya : “Musik Rumah Sakit” ( 1979 dan 1980 di Jakarta), “Parenthese”, “Musik Sikat Gigi” (1982 di Jakarta), Opera Ikan Asin, dan Opera Kecoa.
Harry
Roesli bukan musisi biasa. Kehidupan yang sesungguhnya baginya adalah
seni musik. Kehidupannya adalah kegiatan musik. Alat yang digunakan
untuk musik kontemporernya yakni perkusi, band, rekaman musik, dan lain-lain.
2. Slamet Abdul Sjukur
Slamet berpendapat kalau ada penonton yang bingung mendengarkan musik
kontemperer , ya lumrah saja. Hal ini disebabkan oleh jarak tafsir
antara pemusik dengan penonton yang ada. Slamet mengaitkan karya musik
kontemporer dengan zaman sekarang.
Salah satu ciri khasnya yaitu adanya sifat mendrobrak. Tetapi saat berbicara mengenai perlunya suatu pembaruan, Slamet tidak terbatas pada permasalahan sosial atau politik. Di dalam musik itu sendiri banyak hal-hal yang perlu dikembangkan. Misalnya yang mempunyai suara uwek-uwek, yang belum pernah ada sebelumnya dalam dunia musik. Hal seperti itu tentu merupakan tanda kreatifitas yang bisa mengembangkan seni musik itu sendiri. Dalam pertunjukannya, ada pula tari yang ditampilkan sendirian dan musik yang ditampilkan sendirian.
3. Djaduk Ferianto
Djaduk Ferianto memadukan antara elemen musik tradisional dan modern.
Dalam karya musiknya, alat musik yang digunakan sudah sering kita
lihat, hanya saja perpaduan yang belum pernah ada sebelumnya. Misalnya
kendang dipadu dengan flute. Djaduk banyak bereksperimen bersama grup musiknya yang berbasis di Yogya, Sinten Remen.
Sumber :
aryashfa.wordpress.com
id.wikipedia.org
erabaru.net
gusmau.wordpress.com
home
Home