English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF
Home » » Dasar Penciptaan Sebuah Lagu

Dasar Penciptaan Sebuah Lagu

Written By Muhamad Soleh on Senin, 29 November 2010 | 00.21

Pada umumnya, teknik-teknik yang digunakan dalam menciptakan sebuah lagu, baik syair maupun melodi, cukup beragam. Setiap pencipta lagu (komposer) biasanya memiliki suatu teknik tersendiri dalam pembuatan karya sesuai dengan keinginnannya. Oleh karena itu, dalam teknik mencipta lagu tidak ada patokan baku yang digunakan. Semua proses dilakukan tergantung atas keinginan komposer itu sendiri.
Ide lagu muncul bisa dari keadaan sekitar atau mungkin dari perasaan sang komposer itu sendiri. Ide lagu atau syair saling bersesuaian dengan proses penciptaan melodi. Adapun teknik dalam penciptaan melodi secara garis besar adalah sebagai berikut.
1. Menentukan nada dasar.
Nada dasar sebuah melodi setidaknya disesuaikan dengan ambitus (wilayah suara) dari vokal maupun jenis instrumen yang akan diciptakan.

2. Menentukan akor.
Pada penciptaan komposisi musik, setidaknya diperlukan instrumen yang akan membantu dalam proses berkarya. Misalnya, keyboard/piano maupun gitar. Fungsi instrumen tersebut dapat sebagai pembentuk akor. Setidaknya, sebelum menciptakan sebuah melodi, terlebih dahulu di tentukan suatu sistem progresi akor. Sebagai contoh dengan progresi akor pokok.

3. Menciptakan melodi
Setela akor tersusun sesuai progresi, melodi dapat dinyanyikan atau dituliskan dalam susunan notasi, baik notasi balok maupun notasi angka. Pada proses penciptaan melodi, sebaiknya dengan proses penciptaan satu kalimat lagu sesuai dengan akor yang digunakan.

4. Menyusun frase musik
Menyusun melodi seharusnya dengan menggunakan metode ilmu bentuk musik. Karya yang baik akan terlihat jelas unsur-unsur setiap frase musik dengan penyesuaian terhadap kadens yang digunakan.

Didalam bentuk musik tidak ada penilaian benar atau salah, melainkan dengan penilaian enak didengar dan tidak enak didengar. Namun enak didengar dan tidak enak didengar juga relatif tergantung dari apresiasi dan pemahaman musikal seseorang. Ketika mendengar sebuah lagu yang dilantunkan, tentu yang terbayang dalam benak adalah melodi dan syair lagu baru kemudian akor dan iramanya.
Proses penciptaan karya musik dapat juga dilakukan berdasarkan suasana yang dibayangkan. Dari suasana itu, bentuk lagu yang berkaitan antara harmoni, melodi, syair, irama, dinamika, dan jenis instrumen yang digunakan, saling berkaitan. Sebelum mengetahui proses berkarya dengan hasil yang baik, tentunya akan lebih baik jika dapat mempelajari teori analisa ilmu bentuk musik.
Ilmu bentuk musik adalah merupakan suatu gagasan atau ide yang nampak dalam pengolahan/susunan semua unsur musik dalam sebuah gagasan komposisi (melodi, irama, harmoni dan dinamika). Ide ini mempersatukan nada-nada musik serta yang paling utama adalah bagian-bagian komposisi yang dibunyikan satu persatu sebagai kerangka.

Kalimat / Periode
Pada istilah ilmu analisa bentuk musik, sebuah lagu dapat di potong-potong menjadi beberapa bagian. Sebuah karya utuh dinamakan bentuk musik. Jika bentuk musik dipotong akan menjadi kalimat-kalimat / periode. Pemotongan pada bentuk karya dapat dilihat diakhir kalimatnya yang mencirikan kesan selesai yang kemudian dapat dilanjutkan kembali.
Kesan selesai dari sebuah kalimat dilihat dari kadens akornya maupun simetris kalimatnya. Pada progresi, biasanya melodi akhir kalimat ditandai dengan masuknya akor Tonika. Namun lagu juga dapat bermodulasi ke akor Dominan. Selain itu nada penutup kalimat umumnya jatuh pada ketukan berat.
Untuk memperlihatkan struktur musik agar lebih jelas, maka ilmu analisa bentuk menggunakan sejumlah kode. Kode untuk kalimat / periode adalah umumnya memakai huruf besar (A, B, C, dan seterusnya). Bila sebuah kalimat diulang dengan sedikit perubahan, maka huruf besar disertai dengan tanda aksen( ‘ - ‘’ – ‘’’ – dan seterusnya), misal A B A’ B A’’ (contoh pada bentuk-bentuk bagian lagu dibawah).

Anak Kalimat / Frase
Setiap kalimat musik / periode terdiri dari dua anak kalimat / frase. Frase awal disebut frase pertanyaan / frase anteseden. Sedangkan frase berikutnya sering dinamakan frase jawab / frase konsekwen. Sebuah frase anteseden biasanya berhenti dengan nada yang mengambang, atau sering dikatakan berhenti dengan koma. Umumnya disini terdapat akor Dominan. Dan frase titiknya adalah pada frase konsekwen dengan akor Tonika.
Pengkodean anak kalimat / frase ini adalah dengan huruf kecil (a, b, c, dan seterusnya). Jika dalam frase ini terdapat perubahan, maka di sertai dengan tanda aksen seperti pada bentuk kalimat / periode.

Motif
Unsur terkecil dari musik adalah nada, namun satu nada belum dapat dikatakan musik. Sekolompok nada yang menjadi satu kesatuan disebu motif. Pada umumnya, motif terdiri dari minimal dua nada dan maksimal 2 ruang birama. Bila motif ini memenuhi satu ruang birama, maka disebut motif birama. Sedangkan bila motif ini hanya memenuhi satu hitungan disebut motif mini atau motif konfigurasi.

Pengolahan Motif
Dasar sebuah komposisi adalah keutuhan frase lagu yang menjadi suatu periode kalimat. Hal ini dapat dicapai dengan pengulangan motif. Apabila motif-motif digabung menjadi satu unit, maka terbentuklah melodi yang selanjutnya menjadi deretan figur-figur. Figur-figur tersebut akan menjadi sebuah tema melodi yang setiap satuan motifnya dapat dikembangkan dengan cara merubah harga not tanpa mengurangi isi dari setiap biramanya. Contoh:

Photobucket

Selain contoh pengolahan motif tersebut diatas, ada teknik pengolahan yang dapat digunakan untuk mengembangkan sebuah meslodi sehingga menjadi sebuah karya yang utuh. Teknik-teknik pengolahan motif antara lain:
    1. Repetisi (ulangan harafiah)
Penguangan kembali dengan bentuk sama atau dengan sedikit perubahan.
Contoh pada lagu Garuda Pancasila:

Photobucket

    1. Sekuens (ulangan pada tingkat lain)
Pengulangan kembali ke tingkat nada yang lebih tinggi (sekuens naik) atau lebih rendah (sekuens turun).
Contoh pada lagu Satu Nusa Satu Bangsa dan Indonesia Raya:

Photobucket

Photobucket

    1. Augmentation of ambitus (pembesaran interval)
Pengulangan yang berfungsi untuk menciptakan peningkatan ketegangan.
Contoh pada lagu Hari Merdeka:

Photobucket

    1. Diminuation of ambitus (pemerkecilan interval)
Pengulangan yang bertujuan untuk mengurangi kategangan terutama pada frase konsekwen.
Contoh pada lagu Terimakasihku:

Photobucket

    1. Augmentation of value (pembesaran nilai nada)
Pengulangan dengan pengolahan melodis dengan merubah irama motif karena masing masing nada di gandakan.
Contoh pada lagu Macepet Cepetan: (dengan kode m1 dan n1)
    1. Diminuation of value (pemerkecilan nilai nada)
Pengulangan dengan memerkecil nilai nada sehingga seolah-olah temponya menjadi cepat.
Contoh pada lagu Macepet Cepetan: (dengan kode m dan n)
Photobucket

    1. Inversion (pembalikan)
Pengulangan interval naik menjadi turun demikian juga sebaliknya jika ada motif asli yang intervalnya turun kemudian dengan pengulangan menjadi naik.
Contoh pada lagu Indonesia Bersatulah:

Photobucket

    1. Retrograde (retrogresi)
Pengulangan yang dasar prinsipnya hampir mirip dengan inversi.
Contoh:


Photobucket

http://lirikindonesia-lirikku.blogspot.com/2010/06/kreasi-musik-pada-umumnya-teknik-teknik.html
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Dunia Seni Musik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger